Sunday, October 4, 2015

The Right Partner

Judul di atas diambil dari quote Captain America: The First Avenger. Ketika Steve menjelaskan ke Peggy Carter tentang susahnya mengajak seorang wanita untuk berdansa sama dia, sementara tubuhnya jauh dari kata ideal, dan dia bilang kalau dia hanya bisa menunggu the right partner. Maksudnya Steve Rogers adalah partner yang bisa menerima dia apa adanya, badannya yang kurus kecil, sifatnya yang nggak bisa memperlakukan wanita dengan baik dan lainnya. Buat temen-temen yang punya self confident issue kaya gue gini mungkin akan menjawab seperti Steve Rogers ketika ditanya "mana pacarnya?", terkadang nyebelin juga kalo ditanya "pacar lo mana?" atau "kapan mau nikah?" padahal umur gue belom mateng-mateng banget untuk nikah. Tapi sejujurnya khayalan tentang masa depan bareng the right partner itu sering banget muncul. Belum jelas sama siapa, tapi siapa sih yang nggak membayangkan seseorang yang sempurna?

Ada beberapa tipikal pria yang gue harap bisa menjadi my right partner. Ada yang menginspirasi, tapi dia cuma fictional character. Ada yang memotivasi, tapi dia cuma penyanyi idola. Ada yang pernah selalu bikin semangat kuliah, tapi dia dosen. Ada yang sering ditemuin bahkan suka mampir ke rumah, tapi hatinya ada di wanita lain. Ada yang udah kenal dari masa sekolah, gak pernah berenti ngobrol, sering curhat, bahkan saling merasa nyaman, tapi sering ngajakin berantem dan bikin galau karena ego kita yang sama-sama tinggi. Ada lagi yang bisa mengimbangi sifat gue, bisa selalu bikin seneng hanya dengan mengingatnya, punya minat dan kesukaan yang sama, bisa membimbing dan bisa buat gue menjadi orang yang lebih baik, humoris, dewasa, berwawasan luas, tapi...............beda keyakinan.

Sampai saat ini gue masih menanti my right partner. Dari beberapa deskripsi yang gue jelasin di atas tadi, yang terakhirlah yang masih terasa sampe sekarang. Memang baru sekitar satu bulan I decided to leave him. Ya, gue yang suka gue juga yang meninggalkan, for us. Demi seseorang yang sedang ia jaga perasaannya dan demi perasaan gue juga. Awalnya memang nggak kebayang bagaimana gue bisa ngejalanin hari tanpa  dia. Dia yang selalu mau mendengarkan gue, dia yang selalu menasihati gue, dia yang selalu membuat gue bahagia, dia yang paling mengerti gue.. It's not easy seriously. But that's that. "Belajar untuk Myla supaya makin tambah mateng dan dewasa ya" he said, then I will :)

Well, but I thank God for them thou. Mereka yang pernah menjadi 'guru' dalam hidup gue, membuat gue manjadi seorang yang pernah rapuh namun bisa kembali utuh, meskipun MOSTLY yang menolong pada saat-saat itu adalah diri gue sendiri dan Tuhan. I will never forget them. Thank you. 

Semoga dengan memilih jalan yang berbeda, kita bisa diprtemukan lagi di lain waktu dan di lain tempat dengan semua yang baru. Perasaan baru...yang jauh lebih baik dari sekarang. Buat kamu, terlalu banyak kata 'terima kasih' yang mau aku ucapin. Terima kasih untuk segala-galanya. Terima kasih sudah menjadi kamu, yang baik..sangat sangat baik. Semoga kamu selalu bahagia, semoga hal-hal yang pernah aku tulis buat kamu di dalam jar itu segera menjadi kenyataan, including 'hope you'll find someone who sees you wonderful like I do' :)

Friday, March 20, 2015

Background versus Passion

Entah kenapa dua hal ini selalu harus dikaitkan; Background (jurusan saat kalian masih belajar di bangku SMA dan kuliah) dan Passion (cita-cita kalian). Kalo kalian punya passion di bidang A ya berarti kalian harus belajar atau kuliah di bidang A juga. Jujur, saya bukan tipe yang HARUS banget menaati "aturan" itu. Padahal banyak temen-temen diluar sana yang "kecebur" di program waktu kuliah dan pekerjaannya sekarang. Buat saya belajar itu ngga harus di satu bidang aja, ngga dosa dong kalo kita belajar ilmu Politik, Hukum, Komunikasi & Ekonomi bersamaan selama kita mampu menampung semuanya?

Saya sendiri adalah seorang lulusan Accounting dulunya. Walaupun cuma punya gelar diploma saya merasa udah cukup belajar suatu bidang yang (maaf) saya kurang minati. Saya pernah berfikir kalo saya nggak suka Accounting karena saya nggak mampu, tapi semakin kesini saya sendiri semakin paham alasan saya nggak suka bidang ini karena saya memang belum ada niat untuk pelajari bidang ini lebih dalam lagi. Kalo ditanya "kenapa bisa masuk Akuntansi kalo memang nggak suka?" Saya sendiri pun nggak paham. Saya pilih tiga jurusan yang sesuai dengan jurusan saya di SMA (IPS) waktu test dan akhirnya saya diterima di salah satu jurusan yang (secara random) saya pilih tersebut dan saya jalani-lah balada kehidupan anak kuliah (yang salah jurusan) sampai wisuda.

Tiga tahun kuliah, terlalu banyak cerita yang saya alami disana dan udah ditulis juga disini. Buat orang yang nggak ngerasain mungkin opininya "tiga taun cepet kok..", dan karena saya juga udah lulus saya bisa bilang "Iya, memang ngga kerasa.. Tau-tau udah wisuda. Pisah sama temen-temen seperjuangan. Jalan masing-masing demi cita-cita, bahkan banyak juga yang udah sampe di pelabuhan terakhirnya (baca: married).." I'm sure they're now on their best path, finding their passion and love. So am I.

Walaupun saat ini saya belum menemukan pekerjaan impian saya, saya sangat amat bersyukur pernah dikasih Tuhan the bestest gift, berupa pengalaman dan orang-orang baik yang juga hebat. Kerja di salah satu label musik besar yang saya anggap semuanya sebagai keluarga. Mereka semua baik, baik banget. No words to describe how proud I am to worked with them all. Setelah satu taun disana saya lanjut ke salah satu reseller brand gadget besar di dunia. Saya gabung di divisi marketing. Kita team kecil yang anggotanya cuma empat orang (termasuk saya), walaupun cuma dikasih kesempatan selama satu bulan, tapi pengalaman, temen-temen dan ilmu yang saya terima dari sana sangat berkesan. Kalo bukan karena jarak dan orang tua, saya ngga mau tinggalin tempat itu. Sejujurnya berat ninggalinnya, walaupun cuma satu bulan....

Kedua perusahaan itu nggak melihat background saya sewaktu kuliah. Mereka percaya kemampuan saya diluar dari jurusan yang pernah saya pelajari di bangku SMA & kuliah. Itu yang membuat saya sangat menghargai dan berterimakasih ke mereka...dan Tuhan. Dari Tuhan, melalui mereka, yang kasih saya kesempatan untuk kerja di dunia entertainment dan digital media yang memang sudah menjadi passion saya dari dulu. I trust God with all of my heart. Wherever He wants me to go, I will go. He knows what's best for me. Even if it's not where I planned. He will lead me and I will follow. Just like what my friend told me "Kadang Tuhan kasih kita bukan cara yang langsung. Tapi dengan perantaranya..". Thank you. I'm always keeping these words :)

So, guys. If you have passion, work for it. Live it. Keep it. Don't worry if you're now having a tough life. Every single thing that has happen in your life is preparing you for a moment that is yet to come. Always pray, struggling and put your trust in God if you are believers indeed..